9 Juli 2012

PEMBELAJARAN PUISI DENGAN MODEL CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING and COMPOSITION) Oleh Nanda Evawandry, S.Pd.

A.    PENDAHULUAN
Puisi adalah karangan atau tulisan yang indah yang mempunyai makna tertentu dan mempunyai nilai estetis. (Jalil 1990:13). Menurut Aminuddin, (2000 : 7), puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan. Karangan atau tulisan yang indah itu dapat berasal dari pengalaman penyair ataupun dari penggambaran sesuatu. Puisi diciptakan dalam suasana perasaan yang intens yang menuntut pengucapan jiwa yang spontan dan padat. Tiap karya sastra memiliki kadar keindahan tersendiri, demikian juga halnya dengan puisi. Keindahan suatu puisi dapat terlihat dalam keselarasan unsur-unsur persajakan, irama, bentuk-bentuk yang digunakan, tema, amanat, dan sebagainya. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa puisi adalah ekspresi pengalaman yang ditulis secara sistematik dengan bahasa yang puitis. Kata puitis sudah mengandung keindahan yang khusus untuk puisi. Disamping itu puisi dapat membangkitkan perasaan yang menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas atau secara umum menimbulkan keharuan.
Dalam pembelajaran puisi, hal yang harus diperhatikan adalah kemampuan siswa untuk  mencoba berkarya menulis puisi dengan kemampuan yang sudah dimiliki sehinggga terlihat manfaat pengajaran puisi yang diberikan pada siswa di sekolah. Kemampuan menulis puisi tidak lahir begitu saja tetapi sebelumnya siswa harus belajar, memiliki kemauan, kemampuan dan pengalaman serta minat yang sungguh-sungguh untuk menggali puisi sehingga siswa mampu untuk menulis puisi. Menemukan atau memilih metode yang tepat dalam pembelajaran puisi sangat dituntut agar pembelajaran puisi ini di sekolah-sekolah dapat terlaksana dengan baik. Menurut Rahmanto, (1988:116), puisi yang cocok sebagai model untuk latihan menulis, biasanya puisi yang berbentuk bebas dan sederhana, berisi hasil pengamatan yang berupa imbauan atau pernyataan.
Masalah yang ditemukan di lapangan, pembelajaran menulis puisi sulit dilaksanakan oleh guru, ini karena kemampuan guru yang belum memadai dalam hal pengetahuan maupun cara mengajarkannya. Selain faktor guru, kemampuan dan minat siswa pun menjadi penghambat dalam pembelajaran ini. Perhatian yang kurang terhadap pengajaran puisi ini menyebabkan kurang akrabnya siswa dengan puisi. Kurangnya minat dan kemampuan siswa tersebut tidak terlepas dari faktor pemilihan model pembelajaran yang cocok serta mudah untuk ditiru siswa. Hambatan terbesar dalam mempelajari puisi adalah adanya anggapan dari para siswa bahwa puisi tidak ada gunanya.
Berdasarkan hal di atas, penulis beranggapan agar siswa mampu menulis puisi bebas dengan mudah maka diperlukan model pembelajaran yang cocok serta mudah untuk ditiru.  model pembelajaran tersebut adalah CIRC ( Cooperative Integrated Reading and Composition). Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif (kelompok). Pelaksanaannya adalah dengan membentuk kelompok heterogen empat orang, guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama (membaca, menemukan kata kunci, memberi tanggapan terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok dan refleksi.

B.    PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PUISI DENGAN MODEL CIRC
Menulis puisi bebas terdapat dalam silabus mata pelajaran bahasa Indonesia tingkat SMP kelas VIII semester 2 dengan standar kompetensi (SK) 16, yaitu : Mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam puisi bebas. Berdasarkan SK tersebut maka kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa dan materi pokok yang diajarkan oleh guru adalah seperti tertera pada tabel berikut:
     Tabel :  Kompetensi Dasar dan Materi Pokok Menulis Puisi Bebas
Kompetensi Dasar    Materi Pokok/ Pembelajaran
16.1  Menulis puisi bebas dengan
menggunakan pilihan kata yang sesuai    Penulisan puisi bebas dengan  pilihan kata yang sesuai
                   (Kurukulum Satuan Pendidikan Tingkat SMP Bahasa Indonesia, Tahun 2006)
Pelaksanaan pembelajaran puisi dengan model CIRC ini dikembangkan dengan menggunakan media gambar peristiwa yang diambil dari surat kabar. Gambar tersebut digunting kemudian dibagikan kepada siswa dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. Adapun kelebihan lainnya dari media gambar peristiwa yang terdapat dalam surat kabar adalah berikut:
1. Gambar-gambar tersebut mudah diamati, sehingga siswa dengan mudah dapat
mendata objek yang terdapat dalam gambar yang akan dijadikan bahan penulisan puisi.
2. Peristiwa-peristiwa tersebut berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dengan mudah menentukan tema dan amanat yang akan dijadikan bahan penulisan puisi.
3.    Gambar-gambar tersebut sangat menarik apalagi peristiwa dalam gambar tersebut merupakan berita mengejutkan, sehingga siswa dengan mudah dapat mengubah fakta yang terdapat dalam peristiwa tersebut menjadi sebuah puisi yang menarik.
Berdasarkan kelebihan media gambar peristiwa tersebut, penerapkan pembelajaran menulis puisi bebas dengan model CIRC menggunakan media gambar berbagai peristiwa yang terdapat dalam surat kabar memberikan  hasil siswa yang pada mulanya sulit menulis serta tidak berminat pada puisi menjadi mudah dan senang menulis puisi.
Berikut ini akan diuraikan tahap-tahap pelaksanaan proses pembelajaran menulis puisi dengan model CIRC menggunakan media gambar peristiwa:

1.    Penyusunan Program Pembelajaran

Penyusunan program pembelajaran menulis puisi dengan model CIRC  menggunakan gambar peristiwa yang terdapat dalam surat kabar sesuai dengan Rencana Pembelajaran bahasa Indonesia Kelas VIII, semester 2, meliputi : a) perumusan tujuan pembelajaran, b) penentuan materi ajar, c) penentuan metode pembelajaran, d) pemilihan gambar peristiwa yang terdapat dalam surat kabar dan penulisan puisi bebas.
a. Perumusan Tujuan
Tujuan pembelajaran menulis puisi bebas berdasarkan gambar peristiwa dikembangkan berdasarkan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator berikut ini.
1). Standar Kompetensi :
Mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam puisi bebas
2). Kompetensi Dasar :
Menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai
3). Indikator :
a). Mampu mendata objek yang akan dijadikan bahan menulis puisi
b). Mampu menulis puisi dengan menggunakan pilihan kata yang tepat
c). Mampu menyunting sendiri pilihan kata puisi yang ditulis
Berdasarkan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator tersebut, tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran menulis puisi dengan model CIRC menggunakan gambar peristiwa yang terdapat dalam surat kabar, yaitu:  a) Siswa mampu menentukan data objek yang terdapat dalam gambar peristiwa untuk dijadikan puisi. b) Siswa mampu mengubah data objek yang terdapat dalam gambar peristiwa menjadi sebuah puisi dengan memperhatikan sistematika, kekhasan bahasa, dan unsur-unsur puisi. c) Siswa mampu menyunting sendiri puisi berdasarkan gambar peristiwa dengan pilihan kata yang sesuai.

b. Penentuan Materi Ajar
Penentuan materi ajar didasarkan pada materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam  silabus. Materi ajar/materi pembelajaran harus disesuaikan dengan: (a) tingkat kemampuan siswa, (b) perkembangan jiwa siswa, dan (c) minat siswa yang diintegrasikan dengan penanaman nilai budi pekerti. Materi ajar menulis puisi bebas berdasarkan gambar berbagai peristiwa mengacu pada teori tentang unsur-unsur puisi, yaitu sebagai berikut:
Puisi terdiri dari dua unsur yang menjadi ciri umum puisi, yaitu:
1). Unsur yang berkaitan dengan bentuk puisi terdiri dari unsur bunyi (rima dan irama), diksi atau pilihan kata, dan tampilan cetak/tulisan (tipografi).
2).  Unsur yang berkaitan dengan makna puisi terdiri dari unsur tema dan unsur pesan tersurat atau pesan tersirat (Trianto, 2006: 100).
Adapun unsur-unsur menulis puisi akan diuraikan berdasarkan dua unsur yang menjadi ciri umum puisi di atas yang dirangkum berdasarkan buku Teori dan Apresiasi Puisi serta Apresiasi Puisi karangan Waluyo (1987), adalah sebagai berikut.
1).  Unsur Bunyi (Rima dan Irama)
Rima adalah persamaan bunyi dalam puisi. Persamaan bunyi tersebut dapat berupa bunyi awal, tengah, akhir, atau persamaan bunyi konsonan pada beberapa kata. Adapun yang dimaksud dengan irama ialah alunan suara dalam perpaduan panjang – pendek, tinggi –  rendah, keras – lemah dalam pengucapan kata-katanya. Rima digunakan untuk keindahan bunyi bahasa pada puisi, sedangkan irama berfungsi memberikan keindahan dalam pengucapan. Pada puisi lama rima dan irama berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan pikiran serta membangkitkan kesan. Puisi bebas (baru) rima dan irama tidak digunakan lagi, kecuali jika diperlukan. Para penyair sekarang lebih suka menggunakan pilihan kata yang tepat untuk menguatkan kesan sebagai pengganti rima. Dalam pembelajaran menulis puisi ini, siswa dibebaskan untuk menggunakan rima yang sama atau tidak menggunakan rima.
2).  Diksi atau Pilihan Kata
Dalam sebuah puisi, pemilihan kata yang tepat dapat lebih mengungkapkan sesuatu, dapat memberikan imajinasi yang baik. Dengan demikian, kesan yang timbul akan lebih jelas dan kuat. Untuk menulis puisi bebas menggunakan gambar peristwa agar dapat menimbulkan imajinasi yang baik, gunakan gaya tertentu. Misalnya, mengubah kata-kata yang terdapat dalam gambar peristiwa yang akan dijadikan sebuah puisi dengan membandingkan hal lain atau metafora. Selain itu, dapat juga menggunakan gaya bahasa, yaitu pemakaian kata-kata yang berjiwa, segar, dan dapat menggetarkan perasaan pembaca atau pendengar.
3).  Tampilan cetak/tulisan (tipografi)
Tipografi puisi dinyatakan oleh susunan kata, baris, dan bait. Tipografi ini gunanya agar pembaca dapat memahami maksud isi puisi karena bagian-bagian itu mengandung satuan pikiran yang kemudian terjalin dalam kesatuan pilihan. Pada puisi lama tipografi puisi sangat terikat oleh susunan kata, baris, dan bait. Seperti pantun memiliki syarat, tiap bait terdiri atas empat baris, tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata. Tipografi dalam penulisan puisi bebas menggunakan gambar peristiwa ini tidak terikat oleh jumlah susunan kata, baris, dan bait. Akan tetapi dapat kita batasi jumlah baris atau bait untuk memudahkan siswa menulis puisinya.
4).  Unsur Tema
Tema sebuah puisi ialah inti pokok yang terkandung dalam puisi. Tema menjadi landasan utama dalam menghasilkan sebuah karya. Tema dalam menulis puisi bergambar dapat dengan mudah kita tentukan dengan cara mengamati gambar peristiwa . Misalnya gambar peristiwa tersebut tentang perang yang berkecamuk, maka tema yang cocok adalah tragedi kemanusian. Tema-tema dalam puisi bebas berdasarkan gambar peristiwa dari koran biasanya bertema kemanusiaan atau protes sosial, karena berita dalam koran banyak mengangkat soal kemanusiaan atau protes sosial.
5).  Amanat (Pesan)
Amanat adalah pesan yang hendak disampaikan kepada pembaca. Tujuan menuliskan amanat merupakan hal yang mendorong siswa untuk menciptakan puisi. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun dan juga berada dibalik tema yang diungkapkan. Amanat dalam penulisan puisi bebas menggunakan gambar peristiwa banyak ditujukan kepada pengambil kebijakan publik atau orang yang bertanggung jawab akan peristiwa tersebut.

c. Penentuan Metode Pembelajaran
Agar kompetensi yang diharapkan dapat terwujud maka diperlukan metode yang tepat. Metode yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi bebas menggunakan  gambar berbagai peristiwa yang terdapat dalam surat kabar adalah Model CIRC. Model ini mengupayakan adanya kerjasama, penggalian ide, menemukan data dan fakta melalui pemahaman terhadap gambar peristiwa yang disediakan, mendiskusikan hasil temuan kolaboratif, refleksi, dan perwujudan kedalam karya berbentuk puisi. Dasar pemikiran bahwa berkelompok akan terjadi saling bantu membantu antarsesama siswa  sehingga memudahkan siswa memahami konsep atau mengerjakan apa yang diinginkan oleh guru. Media gambar peristiwa dan contoh puisi adalah sarana untuk mengantarkan siswa kepada tujuan pembelajaran, yaitu mampu menulis puisi.

d. Pemilihan Gambar Berbagai Peristiwa dari Koran dan Puisi Model
Untuk mempermudah penyampaian materi pembelajaran, diperlukan alat/bahan/ sumber belajar. Alat/bahan/sumber belajar yang diperlukan dalam pembelajaran menulis puisi bebas adalah gambar berbagai peristiwa yaitu koran dan naskah puisi. Gambar-gambar peristiwa yang terdapat dalam surat kabar yang akan dijadikan dasar hendaknya memenuhi kriteria: (1) gambar-gambar yang jelas dan menarik perhatian siswa, (2) memiliki judul di atas gambar tersebut, (3) memiliki keterangan di bawah gambar tersebut.  Hal tersebut dimaksudkan agar siswa dapat dengan mudah mengubah gambar dan data yang ada menjadi sebuah puisi.

2.    Pelaksanaan Pembelajaran
Kegiatan inti dalam pembelajaran menulis puisi bebas menggunakan gambar berbagai peristiwa dapat dideskripsikan berikut ini. (1) Mencermati gambar dan puisi. Secara berkelompok, siswa mencermati gambar dan contoh puisi yang disajikan guru. Hal yang dicermati adalah isi puisi tersebut sesuaikah dengan gambar tersebut. (2) Menentukan unsur-unsur puisi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menentukan unsur-unsur puisi (tema, amanat, rima, diksi/pilihan kata). (3) Siswa memilih gambar peristiwa satu gambar untuk satu kelompok. Guru membagikan gambar-gambar peristiwa dari koran yang sudah digunting-gunting, siswa diperbolehkan memilihnya sesuai dengan kemampuannya mengubah gambar tersebut menjadi puisi. (4) Siswa memperhatikan penjelasan guru bagaimana langkah-langkah menulis puisi bebas menggunakan gambar peristiwa dari koran.
Dalam kegiatan pembelajaran menulis puisi, sebelum kegiatan utama yakni  menulis puisi dilaksanakan siswa dilatih melalui beberapa tahapan. Tahapan kerja siswa dalam menulis puisi menggunakan gambar peristiwa adalah sebagai berikut: (a) mencermati gambar, (b) menentukan tema, (c) menentukan amanat/pesan moral, (d) mendata objek atau fakta, (e) Mengubah objek atau fakta dengan pilihan kata atau diksi lain, (f)  membuat judul puisi, dan (g) menyusun puisi. Agar kegiatan pembelajaran ini lebih bermakna bagi siswa dan bagi guru, maka perlu ditetapkan rubric penilaian sebagai penentu keberhasilan siswa dalam PBM yang telah berlangsung. Pembuatan rubrik penilaian ini boleh saja disepakati oleh guru dan siswa dan boleh juga dirancang oleh guru sendiri, tetapi harus dikomunikasikan kepada siswa sebab siswa harus mengetahui seperti apa penilaian yang akan dilakukan guru. Hal ini bermanfaat untuk pencitraan transparansi guru dalam memberi nilai. Berikut contoh rubrik penilaian menulis puisi mengguanakan gambar peristiwa.
Kriteria Penilaian:
1. Bentuk Puisi    Skor
a.    Jumlah bait 3 sampai 7 bait
b.    Jumlah baris satu bait 4 sampai 7 baris
c.    Jumlah kata satu baris 4 sampai 7 kata    1
1
1
2. Tema   
a.    Sesuai dengan gambar
b.   Tidak sesuai dengan gambar    1
0
3.    Pesan Moral   
a.    Disampaikan sesuai dengan isi gambar
b.    Disampaikan mendekati sesuai dengan isi gambar
c.    Disampaikan tidak sesuai dengan isi gambar    2
1
0
4. Mendata fakta yang terdapat dalam gambar   
      a.   Data fakta lengkap
      b.   Data fakta mendekati lengkap
      c.   Data fakta tidak lengkap    2
1
0
5. Mengubah fakta menjadi puisi dengan diksi/pilihan kata yang sesuai (kata kias, lambang/simbolik, gaya bahasa)   
a.    Semua fakta sesuai dengan pilihan kata
b.    Sebagian kecil fakta tidak sesuai dengan pilihan kata
c.    Sebagian besar fakta tidak sesuai dengan pilihan kata
     d.    Semua fakta tidak sesuai dengan pilihan kata    3
2
1
0
6. Sistematika Puisi   
a.    Urut-urutan sesuai
b.    Urut-urutan tidak sesuai     1
0
Total    12



C.    PENUTUP
Pembelajaran menulis puisi dengan model CIRC menggunakan gambar berbagai peristiwa yang terdapat dalam surat kabar ini sangat tepat dilaksanakan karena dapat menarik minat siswa dalam menulis puisi. Pembelajaran ini memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut.
a. Mudah dilaksanakan oleh setiap guru bahasa Indonesia di SMP
b. Materi ajar yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan siswa
c. Kegiatan pembelajaran benar-benar berpusat pada siswa sehingga siswa dapat menemukan jawaban sendiri (inkuiri) terhadap gambar peristiwa yang akan diubah menjadi puisi
d. Sangat efektif untuk mengembangkan kreativitas dan imajinasi siswa, berargumen dalam kelompok, memecahkan masalah dengan bekerja sama, dan berproses dalam kelompok yang heterogen.
e. Sangat efektif untuk menumbuhkan sikap kritis terhadap permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari
f. Sangat efektif untuk menumbuhkan sikap berani mengeluarkan pernyataan terhadap persoalan yang terjadi
g. Sangat efektif untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menulis puisi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar