A. Analisis Sosial
UU Sisdiknas (UU Nomor 20 tahun 2003) dianggap berpaham pasar bebas atau kapitalisme. Dasar pernyataan yang dipicu oleh kebijakan penghilangan pendidikan Pancasila dari kurikulum pendidikan di Indonesia. Hegemoni yang berkembang bahwa pada zaman Orde Baru pendidikan Pancasila, termasuk penataran P4-nya, adalah usaha untuk melanggengkan dan memperkokoh kekuasaan penguasa. Pancasila dijadikan senjata oleh penguasa untuk melanggengkan hegemoni mereka dengan cara merangkul orang-orang lapisan atas, para kroni, serta keluarga elit penguasa. Mereka diberi lisensi perdagangan yang amat berlebihan, hak monopoli, dll.
Sejarah mengungkapkan, ketika pertama kali Bung Karno mengurai Pancasila dalam pidatonya 16 Mei-3 Juni 1956 di Amerika dengan penuh percaya diri. Setiap sila disebutkan disambut tepuk tangan hadirin dan diakhiri aplaus panjang. Keberanian Bung Karno mengampanyekan Pancasila kepada dunia seharusnya menyadarkan kita begitu pentingnya Pancasila bagi sebuah negara yang bernama Indonesia. Pancasila merupakan pancaran karakter keindonesiaan, sesuai karekteristik lingkungan alamnya, sebagai negeri lautan yang ditaburi pulau-pulau.
Lahirnya reformasi yang notabene dianggap mampu membuat hengkangnya Sang Penguasa Orde Baru dari tahtanya jelas-jelas ingin mengikis habis semua irama roda pemerinthan di masa rezim Sang Penguasa. Segala kebijakkan dan corak pemerintahan pada masa itu seakan ingin di hapus dengan bentuk baru yang didengung-dengungkan, yaitu reformasi. Kikisnya hingga jatuhnya “kekuasaan panjang” sang Presiden diikuti dengan usaha penghilangan hegemoni yang berkembang. Pertanyaannya, Apakah juga harus mengikis Pancasila atau Mengapa Pancasila begitu penting?
B. Analisis Teks
Untuk menganalis empat teks berita yang terlampir, susuai cara yang dilakukan Van Dijk, maka keempat teks tersebut akan dianalis dengan tiga tingkatan:
1. Struktur Makro (Tematik)
Dalam buku Eriyanto (Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media, 2009) menyatakan bahwa Van Dijk menganalisis suatu teks terdiri atas beberapa struktur/tingkatan yang masing-masingnya saling mendukung. Sruktur mikro merupakan makna global/ umum dari suatu teks atau tema yang dikedepankan dalam suatu teks berita.
Apabila kita baca keempat teks berita yang terlampir, jelas bagi kita bahwa topik yang dibahas keempat teks berita tersebut adalah sama. Tema atau topik bahasan menyangkut penghapusan pendidikan Pancasila dalam UU Sisdiknas dari tingkat dasar hingga ke perguruan tinggi, sehingga mata pelajaran itu tidak diajarkan lagi.
2. Superstruktur (Skematik)
Tingkatan ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks (seperti bagian pendahuluan, isi penutup, dan kesimpulan), bagaimana bagian-bagian teks tersusun ke dalam berita yang utuh. Untuk menganalisi teks berita pada tingkatan ini, ada baiknya kita analisis satu per satu teks berita yang dilampirkan.
a. Teks Berita 1 ( Pendidikan Pancasila Dihapus Nilai-nilai Toleransi Ditinggalkan, Kompas, Jumat 6 Mei 2011)
Skematik yang digunakan wartawan pada teks berita ini terlihat adanya summary, yang ditandai dua elemen yaitu judul dan lead. Judul dan lead yang digunakan untuk menunjukkan tema yang ingin ditampilkan oleh wartawan. Judul teks berita Pendidikan Pancasila Dihapus Nilai-nilai Toleransi Ditinggalkan, lead yang digunakan adalah lead ringkasan yang mengantar pembaca pada topik yang akan disampaikan. Story atau isi berita keseluruhannya disajikan dalam dua subkategori. Pertama, situasi (proses atau jalannya peristiwa), yaitu menampilkan situasi pada sejumlah guru di daerah yang dikatakan sulit menanamkan nilai-nilai seperti musyawarah, gotong royong, dan toleransi beragama kepada siswanya karena pelajaran pendidikan Pancasila dihapuskan dan lebih difokuskannya kepada pelajaran kewarganegaraan yang lebih menekankan kepada aspek wacana dan hafalan. Kedua, komentar yang ditampilkan dalam teks, yaitu wartawan menampilkan beberapa komentar dari narasumber beritanya, diantaranya komentar Kepala SMAN 1 Lawa, Sulteng, Kepala SMA Pembangunan Yogyakarta, guru PKN SMAN 13 Jakarta, Kepala Pusat Studi Pancasila UGM Yogyakarta, guru PKN SMAN 1 Palembang, guru SMAN 10 Medan, Ketua Himpunan Pengembangan Kuriklum Indonesia, dan anggota BSNP.
b. Teks Berita 2 (Ajaran Pancasila Harus Direvitalisasi Tumbuhkan Lagi Kerukunan dan Gotong Royong, Kompas, Sabtu 7 Mei 2011)
Skematik teks berita dua ini juga menggunakan lead ringkasan di samping adanya judul yang menunjukkan atau mengarahkan kepada tema yang dibahas dalam teks berita. Dalam teks berita kedua ini, wartawan tidak memulai beritanya dengan story situasi, melainkan wartawan memulai beritanya dengan menampilkan komentar dari beberapa nara sumber. Story situasi disajikan dalam bentuk data yang wartawan ambil dari sumber yang mendukung berita yang akan disampaikan (Litbang Kompas).
c. Teks Berita 3 (Pendidikan Pancasila Kurikulum Pendidikan Harus Dirubah, Kompas, Rabu 11 Mei 2011)
Dalam teks berita ketiga ditemukan summary yang disajikan oleh wartawan masih menggunakan dua elemen, yaitu judul dan lead. Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa judul dan lead ini menunjukkan pengarahan pembaca kepada topik yang dibahas oleh wartawan. Lead pada teks berita menggunakan lead kutipan, yaitu memulainya dengan kutipan pokok pikiran yang disampaikan Dedi Gumelar (anggota Komisi X DPR), yaitu, “Kurikulum pendidikan nasional harus segera diubah dengan memasukkan kembali materi ajar nilai-nilai Pancasila, seperti kerukunan, musyawarah, gotong royong, dan nilai-nilai luhur lainnya,” dan seterusnya (dapat dibaca dalam teks berita yang dilampirkan). Story atau isi berita keseluruhannya disajikan dalam dua subkategori. Pertama, situasi (proses atau jalannya peristiwa) dan kedua subkategori komentar, yaitu tampilan pendapat dan komentar dari beberapa nara sumber sampai pada akhir berita disajikan.
d. Teks Berita 4 (UU Sisdiknas Berpaham Pasar Bebas Nilai-nilai Pancasila Tidak Menjadi Landasan, Kompas, Kamis 12 Mei 2011)
Dua elemen summary juga digunakan dalam teks berita kekempat ini, yaitu elemen judul dan lead. Lead pada teks berita keempat menggunakan lead menuding langsung, yaitu wartawan menuding langsung pada suatu kebijakan yang menghilangkan pendidikan Pancasila dihapuskan dalam UU Sisdiknas. Lead tersebut berbunyi , “Bukan susuatu yang aneh jika pendidikan Pancasila tidak lagi diajarkan di semua jenjang pendidikan di Indonesia. Ini disebabkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi acuan berpaham pasar bebas atau kapitalisme.” Story atau isi berita keseluruhannya disajikan dalam dua subkategori. Pertama, situasi (proses atau jalannya peristiwa), yaitu dengan mengungkapkan penjelasan paham kapitalisme yang dimaksudkan wartawan dalam lead. Kedua, komentar yang ditampilkan dalam teks, yaitu komentr dari Guru Besar Pancasila Universitas Nusa Cendana Kupang, Koordinator Koalisi Pendidikan, Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Direktur Eksklusif Institute for Reform Universitas Paramadina sampai pada akhir berita disajikan.
3. Struktur Mikro (Semantik)
Menurut Van Dijk (dalam Eriyanto, Analisi Wacana Pengantar Analisis Teks Media, 2009), struktur mikro adalah makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat dan gaya yang dipakai oleh suatu teks. Dengan kata lain, struktur mikro ini adalah makna yang ingin ditekankan dalam teks berita. Misal, dengan memberi detil pada satu sisi atau membuat eksplisit satu sisi dan mengurangi detil sisi lain. Jadi, mencakup analisis mengenai detil, maksud, praanggapan, dan normalisasi. Berikut ini diberikan contoh analisis satu teks berita saja, yaitu teks berita 1.
Analisis Teks Berita 1
1) Latar, merupakan bagian berita yang dapat mempengaruhi semantik (arti) yang ingin ditampilan wartawan ketika menulis beritanya. Menurut Eriyanto (Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media, 2009), latar berita ini biasanya ditampilkan di awal, latar dipilih menentukan ke arah mana pandangan khalayak hendak dibawa. Latar teks berita 1 ini adalah:
Dihapuskannya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjadi hanya Pendidikan di semua jenjang pendidikan membawa konsekuensi ditinggalkannya nilai-nilai Pancasila, seperti musyawarah, gotong royong, kerukunan dan toleransi beragama. Padahal nilai-nilai seperti itu kini sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan suatu bangsa yang pluralistis.
Kita dapat menganalisis maksud yang ingin dikemukakan wartawan sesungguhnya, walaupun tidak secara eksplisit dikemukakan, jelas pada latar yang ditulis wartawan pada teks berita 1 mengisyaratkan ketidaksetujuan wartawan atas dihapuskannya pendidikan Pancasila di semua jenjang pendidikan dan menegaskan padahal nilai-nilai Pancasila sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan suatu bangsa yang pluralistis.
2) Detil, merupakan strategi bagaimana wartawan mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit. Wartawan menguraikan dengan detil isi beritanya. Karena di awal tadi wartawan sudah membawa pembaca pada konsekuensi ditinggalkannya nilai-nilai Pancasila karena penghapusan pendidikan Pancasila, maka untuk menggiring pembaca selanjutnya pada maksud wartawan, dihadirkan sejumlah komentar yang secara tidak langsung membenarkan latar belakang yang dikemukakan wartawan. Detil isi berita itu adalah:
Sejumlah guru di beberapa daerah mengatakan kini sulit menanamkan nilai-nilai seperti musyawarah, gotong royong, dan toleransi beragama kepada murid-muridnya karena pelajaran kewarganegaraan lebih menekankan aspek wacana dan hafalan.
Sesuai kurikulum, materi yang diberikan memang hanya hafalan dan penambahan pengetahuan. Sedikit peluang penanaman nilai dan pembentukan moral anak.
Dijenjang SMA misalnya, ditekankan soal hakikat Negara dan bentuk-bentuk kenegaraan, system huku dan peradilan nasional, serta peranan lembaga-lembaga peradilan. Ditekankan pula soal partai politik, pemberantasan korupsi, penegakkan hak asasi manusia, serta kedudukan warga negara. Pancasila hanya disinggung sedikit di kelas III (XII) SMA semester pertama. Itu pun hanya 1 bab materi Pancasila sebagai ideologi terbuka.
Pendidikan Pancasila semestinya menjadi “pintu masuk” untuk pendidikan dan pembentukan karakter siswa serta penanaman nilai-nilai kebangsaan atau nasionalisme dan patriolisme dan seterusnya.
Dengan pola yang digunakan wartawan ini, posisi “pemerintah” sebagai pembuat kebijakan penghapusan pendidikan Pancasila tersebut menjadi tidak legitimate, seakan menjadi pemicu terjadinya konsekuensi dari penghapusan pendidikan Pancasila tersebut. Sebaliknya, masyarakat, khususnya tenaga pendidik, dan wartawan serta pihak-pihak lain yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut berada pada posisi legitimate.
3) Maksud, menunjukkan bagaimana secara implisit dan tersembunyi wartawan menggunakan praktik bahasa tertentu untuk menonjolkan basis kebenarannya dan secara implisit juga menyingkirkan versi kebenaran lainnya. Dalam teks berita ini terlihat sekali maksud seperti yang disebutkan di atas, kita lihat saja dari mulai penulisan latar belakang berita hingga pada pengungkapan detil isi berita, komentator diposisikan wartawan secara tidak langsung untuk mendukung maksud yang ingin disampaikannya. Namun pada sisi lain wartawan juga menampilkan pendapat anggota BSNP yang mengatakan nilai-nilai Pancasila sebenarnya sudah termuat dalam kurikulum pendidikan nasional sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Namun, pemahaman guru yang masih terbatas pada tekstual dan belum sampai pada pemahaman kontekstual. Dalam kasus ini wartawan seakan membentrokan pendapat komentator sehingga menjadi hal yang membingungkan bagi pembaca. Walaupun begitu, dalam teks berita ini bagian komentar yang tidak mendukung dihapuskannya Pendidikan Pancasila lebih ditonjolkan. Artinya wartawan lebih menonjolkan ketidaksetujuan penghapusan pendidikan Pancasila dan basis lainnya tersingkirkan (seperti komentar anggota BSNP di atas).
4) Koheransi, pertalian atau jalinan antarkata, atau antarkalimat dalam teks. Kita akan menganalisis koherensi yang terdapat dalam teks berita 1. Misalnya, kita lihat pada paragraf pertama,
(K1) Dihapuskannya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjadi hanya Pendidikan Kewarganegaraan di semua jenjang pendidikan membawa konsekuensi ditinggalkannya nilai-nilai Pancasila, seperti musyawarah, gotong royong, kerukunan, dan toleransi beragama. (K2)Padahal nilai-nilai seperti itu kini sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan suatu bangsa yang pluralistis.
Analisis paragraf pertama teks berita ini adalah, kalimat 1 (K1) dengan kalimat 2 (K2) menjadi berhubungan ketika ia dihubungkan oleh kata padahal sehingga membentuk hubungan kausal dan koherensi kondisional (K2 sebagai anak kalimat yang menjelaskan K1). Kedua kalimat dalam paragraf tersebut mempunyai pertalian yang tidak terpisah, saling menjelaskan dan menguatkan, yaitu K1 menjelaskan dan K2 menguatkan pernyataan pada K1. Jadi, dapat dikatakan paragraf pertama teks berita ini koheren. Pada paragraf kedua dan ketiga juga koheren, yaitu dengan adanya kalimat Sesuai kurikulum, materi yang diberikan memang hanya hafalan dan penambahan pengetahuan pada paragraf ketiga memberi penguatan terhadap yang disampaikan pada paragraf kedua. Demikian seterusnya, proposisi yang berbeda dalam setiap paragraf dihubungkan oleh kata penghubung (konjungsi), pengacuan, hubungan keadaan, kondisi, dan hubungan kausal dengan paragraf sebelumnya. Dalam paragraf terakhir, terdapat hoherensi pembeda, sebab paragraf ini seolah-olah bertentangan dan berseberangan dengan fakta yang dikemukakan pada paragraf-paragraf sebelumnya.
5) Pengingkaran, merupakan bentuk strategi wacana di mana wartawan tidak secara tegas dan eksplisit menyampaikan pendapat dan gagasannya pada khalayak. Apabila kita analisis pengingkaran pada teks berita 1 ini jelas sekali terlihat bahwa wartawan tidak tegas menyampaikan pendapat dan gagasannya. Wartawan hanya mengurai isi berita melalui komentar beberapa nara sumber dengan tidak mencantumkan sedikitpun komentarnya secara eksplisit. Namun secara implisit kita dapat menangkap bahwa wartawan juga sependapat dengan pendapat nara sumber yang menyampaikan ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan penghapusan pendidikan Pancasila dari UU Sisdiknas. Hal ini juga dapat dilihat dari penampilan data perjalanan pendidikan nilai-nilai Pancasila yang diambil dari sumber Litbang Kompas, dan berita-berita “Kompas” oleh wartawan. Ini jelas menunjukkan pendapat dan gagasan wartawan secara implisit itu.
6) Bentuk Kalimat, segi sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas. Bentuk kalimat ini menentukan apakah subjek diekspresikan secara eksplisit atau implisit dalam teks. Sekarang, kita coba menganalisis bentuk kalimat yang digunakan dalam teks berita 1 ini.
a) Kalimat Dihapuskannya (P) Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan menjadi hanya Pendidikan Kewarganegaraan (S) di semua jenjang pendidikan membawa konsekuensi ditinggalkannya nilai-nilai Pancasila, seperti musyawarah, gotong royong, kerukunan, dan toleransi beragama. Apabila dilihat struktur kalimatnya, kalimat pertama ini menggunakan bentuk pasif (prediketnya berawalan di-) dan deduktif (inti kalimat ditempatkan dibagian muka). Artinya, kalimat pertama ini lebih menonjolkan dan memfokuskan pada maksud dihapuskannya Pendidikan Pancasila.
b) Kalimat Padahal nilai—nilai seperti itu kini (S) sangat dibutuhkan (P) untuk menjaga keutuhan suatu bangsa yang pluralitas (O). Struktur kalimat kedua adalah pasif, prediketnya berawalan di-. Wartawan bermaksud ingin memonjolkan dan memfokuskan pada nilai-nilai Pancasila. Bentuk kalimatnya deduktif yaitu dengan menempatkan inti kalimat di bagian muka.
c) Kalimat Sejumlah guru di beberapa daerah (S) mengatakan (P), kini sangat sulit menanamkan nilai-nilai seperti musyawarah, gotong royong, dan toleransi beragama kepada murid-murid karena pelajaran pelajaran Kewarganegaraan lebih menekankan aspek wacana dan hafalan. Pada kalimat ketiga ini wartawan menggunakan bentuk aktif (prediketnya berawalan me-), memposisikan sejumlah guru dibeberapa daerah menjadi subjek pernyataannya. Di samping itu bentuk kalimat kertiga ini adalah deduktif, yaitu dengan menempatkan inti kalimat dibagian muka.
d) Kalimat Sesuai kurikulum, materi (S) yang diberikan (P) memang hanya hafalan dan penambahan pengetahuan. Bentuk kalimat pasif (prediket berawalan di-) dan deduktif (inti kalimat ditempatkan pada bagaian muka). Wartawan lebih menonjolkan dan memfokuskan pada materi.
e) Kalimat Di jenjang SMA misalnya, ditekankan (P) soal hakikat Negara dan bentuk-bentuk kenegaraan, sistem hukum dan peradilan nasional, serta peranan lembaga-lembaga peradilan. Bentuk kalimat pasif (prediketnya berawalan di-) dan deduktif (inti kalimat ditempatkan pada bagian muka). Subjek kalimat dilesapkan yaitu Pendidikan Kewarganegaraan. Wartawan lebih menonjolkan dan memfokuskan pada Pendidikan Kewarganegaraan.
f) Kalimat Pancasila (S) hanya disinggung (P) sedikit di kelas III (XII) SMA semester pertama. Bentuk kalimat pasif (prediket berawalan di-) dan deduktif (inti kalimat ditempatkan di muka). Wartawan menonjolkan atau memfokuskan pada Pancasila, dan seterusnya (tidak semua kalimat dalam teks berita 1dianalisis, karena hanya memberikan contoh).
7) Kata Ganti, merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinasi. Dalam teks berita 1 ini tidak dijumpai penggunaan kata ganti oleh wartawan.
8) Leksikon, eleman yang menandakan bagaimana seseorang melakukan pemilihan kata atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia. Dalam teks berita 1 ini wartawan menggunakan kata yang langsung mengungkapkan maksud (langsung pada tujuan/ sasaran), misalnya kata dihapuskannya, wartawan tidak mengganti dengan kata lain seperti tidak dicantumkannya, sebab penggunaan kata tidak mencantumkannya mengaburkan maksud atau sebagai bentuk eufemisme dari kata dihapuskannya saja.
9) Praanggapan (Presupposition), merupakan pernyataan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks atau upaya mendukung pendapat dengan memberikan premis yang dipercaya kebenarannya. Dalam teks berita 1 ini terdapat praanggapan dihapuskannya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjadi hanya Pendidikan Kewarganegaraan di semua jenjang pendidikan membawa konsekuensi ditinggalkanya nilai-nilai Pancasila, seperti musyawarah, gotong royong, kerukunan, dan toleransi beragama. Mengapa kalimat tersebut dianggap praanggapan? Karena kenyataanya belum terjadi, tetapi didasarkan pada anggapan. Apakah dengan dihapuskannya Pendidikan Pancasila itu benar-benar akan ditinggalkannya nilai-nilai Pancasila? Walaupun praanggapan itu masuk akal atau logis.
10) Grafis, merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ditekankan atau ditonjolkan (yang dianggap penting) dalam sebuah teks. Termasuk di dalamya pemakaian huruf tebal, huruf miring, pemakaian garis bawah, huruf yang dibuat dengan ukuran lebih besar, pemakaian caption, raster, grafik, gambar, atau tabel. Apabila diperhatikan teks berita 1 ini terdapat penggunaan grafis, yaitu penggunaan gambar yang mewakili 5 sila Pancasila (bintang, pohon beringin, kepala banteng, padi dan kapas, serta rantai), juga menggunakan huruf yang dibuat dengan uuran lebih besar dan huruf tebal yaitu pada frase penghapusan disengaja dan penanaman nilai).
11) Metafora, menyampaikan pesan pokok lewat teks, dapat berupa kepercayaan masyarakat, ungkapan sehari-hari, peribahasa, pepatah, petuah leluhur, kata-kata kuno, bahkan ungkapan yang diambil dari ayat-ayat suci yang semua dipakai untuk memperkuat pesan utama. Dalam teks berita 1 ini tidak terdapat penggunaan metafora.
C. Kognisi Sosial
Pendekatan kognisi didasarkan pada asumsi bahwa teks tidak mempunyai makna, tetapi makna itu diberikan oleh pemakai bahasa, oleh karena itu dibutuhkan suatu penelitian atas representasi kognisi dan strategi wartawan dalam memproduksi suatu berita. Apabila kita melihat dari praanggapan wartawan tentang berita yang disampaikan dapat dikatakan bahwa wartawan penulis teks berita ini memiliki pengetahuan tentang topik. Pernyataan ini didukung oleh upaya yang dilakukan wartawan mencari dukungan praanggapannya dengan menampilkan komentar-komentar dari beberapa nara sumber yang berkaitan dan berkompeten dalam bidang/topik yang dibahas.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar